Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 04 Desember 2008

PENCAHAYAAN DALAM SUATU RUANGAN

Pencahayaan merupakan jumlah cahaya yang jatuh ke media fotografi (film atau sensor cahaya) selama proses pengambilan gambar. Pencahayaan dihitung dalam satuan lux detik, dan bisa dihitung dari nilai pencahayaan /exposure value (EV) dan luminansi latar.

Pencahayaan yang tepat ditentukan oleh sensitivitas medim yang digunakan. Biasa juga disebut kecepatan film/ kepekaan film yang dihitung sesuai skala yang telah ditentukan oleh ISO (International Organization for Standardization). Film yang lebih peka membutuhkan pencahayaan yang lebih sedikit dan mempunyai nilai ISO yang lebih tinggi. Pencahayaan merupakan kombinasi antara waktu dan terang cahaya yang diterima oleh material sensitif cahaya. Waktu dikendalikan oleh kecepatan rana dan terang cahaya dikendalikan oleh diafragma. Kecepatan rana yang lebih rendah (membiarkan medium terkena cahaya lebih lama) dan diafragma yang lebih lebar (membiarkan cahaya msuk lebih banyak) menghasilkan pencahayaan yang lebih besar.

Kira-kira kita bisa memperoleh pencahayaan yang tepat saat siang hari cerah jika kita menggunakan film ISO 100, diafragma f/16 dan kecepatan rana 1/100 detik. Ini adalah aturan cerah 16: pada diafragma 16 di siang hari yang cerah, kecepatan rana yang sesuai adalah satu di atas kepekaan film (atau yang terdekat).

Sebenarnya tak ada yang namanya pencahayaan yang benar-benar tepat, karena suatu latar dapat di arahkan dengan berbagai cara, tergantung effek yang bagaimana yang ingin disampaikan oleh sang fotografer.

Timbal balik

Prinsip penting dalam pencahayaan adalah prinsip timbal balik. Jika waktu pembukaan rana lebih lama, maka dibutuhkan diafragma yang lebih sempit untuk mengurangi jumlah cahaya yang mengenai film sehingga mendapatkan pencahayaan yang sama. Sebagai contoh seorang fotografer menggunakan prinsip cerah-16 dengan menggunakan diafragma f/5.6 (untuk mendapatkan ruang tajam yag sempit). Karena f/5.6 merupakan 3 stop lebih cepat (3 stop naik) dari f/16, dengan tiap stop berarti menggandakan jumlah cahaya, maka kecepatan rana yang sesuai dari 1/125 adalah 3 stop turun yaitu 1/1000.

Sekarang ini kebanyakan kamera dapat menentukan pencahayaan yang tepat saat pengambilan gambar menggunakan light meter. Dalam kamera manual alat ini hanya memadu fotografer dengan usulan pencahayaan yang tepat, sedangkan kecepatan ataupun diafragma itu sendiri harus di-set secara manual. Untuk kamera otomatis ada mode Av (aperture value), Tv (time value) dan automatis. Mode Av memungkinkan fotografer mengeset diafragma dan mebiarkan kamera menentukan kecepatan yang sesuai. Mode Tv memungkinkan fotografer mengeset kecepatan tertentu dan membiarkan kamera menentukan diafragma yang sesuai. Mode automatis membiarkan kamera menentukan kecepatan dan diafragma secara otomatis.

Latitude/ruang gerak

Ruang gerak merupakan derajat dimana kita bisa melakukan pencahayaan over atau under tapi masih menghasilkan kualitas yang masih bisa diterima dari suatu pencahayaan. Umumnya film negatif mempunyai kemampuan menyimpan gambar yang lebih baik pada cahaya terang dibandingkan film slide ataupun digital. Digital bersifat kebalikan dari film negatif, yaitu memiliki ruang gerak yang bagus di daerah bayangan (agak gelap) dan memiliki ruang gerak sempit di daerah terang; berkebalikan dengan film yang mempunyai ruang gerak lebar di daerah terang, dan sempit di daerah gelap. Film slide mempunyai ruang gerak yang sempit di semua area, jadi membutuhkan pencahayaan yang lebih akurat.

Pencahayaan ruangan, khususnya di tempat kerja yang kurang memenuhi persyaratan tertentu dapat memperburuk penglihatan, karena jika pencahayaan terlalu besar atau pun lebih kecil, pupil mata harus berusaha menyesuaikan cahaya yang diterima oleh mata. Akibatnya mata harus memicing silau atau berkontraksi secara berlebihan.

Kondisi penerangan di tempat kerja, pabrik, dan fasilitas olah raga yang kurang memadai ternyata sangat mempengaruhi kondisi psikologis, suasana hati, dan perilaku. Sering kali karena pencahayaan yang salah, seseorang menjadi tidak rileks dan sulit untuk berkonsentrasi.

Jarak obyek dengan mata yang paling ditolerir oleh mata normal adalah 54 Cm hingga enam meter. Pada jarak tersebut mata mengalami full rest position (dalam keadaan rileks-red.). Entah itu dari posisi sudut ke sudut atau kanan ke kiri.

Intensitas cahaya pada obyek yang paling ideal adalah 40 "candle light" (lilin) atau 40 Watt. Karena jika pencahayaan lebih besar atau lebih kecil, pupil mata harus berusaha menyesuaikan cahaya yang dapat diterima oleh mata. Pupil akan mengecil jika menerima cahaya yang besar. Hal ini merupakan salah satu penyebab mata cepat lelah, karena ada batas waktu dimana mata ingin rileks.

Selain itu penyebab lain dari gangguan penglihatan adalah terjadinya apa yang disebut dengan competitive vision, dimana adanya sumber cahaya atau bayangan yang memberikan efek kompetitif yang dapat mengakibatkan mata bergeser ke arah yang diinginkan.

Sebagai contoh sinar lampu yang dipasang pada papan iklan (billboard) di jalan raya. Pantulan sinar lampu tersebut bersaing dengan cahaya dari lampu mobil sehingga mengganggu konsentrasi penglihatan pengemudi mobil tersebut.

Pencahayaan yang diperlukan adalah cahaya dengan panjang gelombang antara 400 ekstrum hingga 700 ekstrum cahaya. Cahaya diatas 700 ekstrum akan melepaskan panas, sedangkan dibawah 400 ekstrum akan memberikan cahaya ultraviolet yang mengganggu proses kimiawi terutama pada lensa mata.

Dampak paling berat dari pencahayaan yang tidak memadai itu adalah kelelahan pada mata, namun itu pun bersifat 'reversible'. Maksudnya, jika mata mengalami kelelahan, maka dengan melakukan istirahat yang cukup, mata akan pulih kembali. (dar)

PENDEKATAN KESELAMATAN KERJA

Tidak jarang para karyawan dihadapkan pada persoalan di keluarga dan perusahaan. Tekanan persoalan dapat berupa aspek emosional dan fisik, terbatasnya biaya pemeliharaan kesehatan, dan berlanjut tyerjadinya penurunan produktivitas karyawan. Pihak manajemen seharusnya mampu mengakomodasi persoalan karyawan sejauh terkait dengan kepentingan perusahaan. Pertimbangannya adalah bahwa unsur kesehatan dan karyawan memegang peranan penting dalam peningkatan mutu kerja karyawan. Semakin cukup jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan dan keamanan kerja maka semakin tinggi pula mutu kerja karyawan. Dengan demikian perusahaan akan semakin diuntungkan dalam upaya pengembangan bisnisnya.

Setiap perusahaan sewajarnya memiliki strategi memperkecil dan bahkan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja di kalangan karyawan sesuai dengan kondisi perusahaan. Strategi yang perlu diterapkan perusahaan meliputi :

a. Pihak manajemen perlu menetapkan bentuk perlindungan bagi karyawan dalam menghadapi kejadian kecelakaan kerja. Misalnya karena alasan finansial, kesadaran karyawan tentang keselamatan kerja dan tanggung jawab perusahaan dan karyawan maka perusahaan bisa jadi memiliki tingkat perlindungan yang minimum bahkan maksimum.

b. Pihak manajemen dapat menentukan apakah peraturan tentang keselamatan kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal dimaksudkan setiap aturan dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara secara informal dinyatakan tidak tertulis atau konvensi dan dilakukan melalui pelatihan dan kesepakatan-kesepakatan.

c. Pihak manajemen perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan prosedur dan rencana tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Proaktif berarti pihak manajemen perlu memperbaiki terus menerus prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan karyawan. Sementara arti reaktif, pihak manajemen perlu segera mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul.

d. Pihak manajemen dapat menggunakan tingkat derajad keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke khalayak luas. Artinya perusahaan sangat peduli dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sesuai dengan strategi di atas maka program yang diterapkan untuk menterjemahkan strategi itu diantara perusahaan biasanya dengan pendekatan yang berbeda. Hal ini sangat bergantung pada kondisi perusahaan. Secara umum program memperkecil dan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja dapat dikelompokkan : telaahan personal, pelatihan keselamatan kerja, sistem insentif, dan pembuatan aturan penyelamatan kerja.

a. Telaahan Personal

Telaahan personal dimaksudkan untuk menentukan karakteristik karyawan tertentu yang diperkirakan potensial berhubungan dengan kejadian keselamatan kerja: (1) faktor usia; apakah karyawan yang berusia lebih tua cenderung lebih lebih aman dibanding yang lebih muda ataukah sebaliknya, (2) ciri-ciri fisik karyawan seperti potensi pendengaran dan penglihatan cenderung berhubungan derajad kecelakaan karyawan yang kritis, dan (3) tingkat pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya pencegahan dan penyelamatan dari kecelakaan kerja. Dengan mengetahui ciri-ciri personal itu maka perusahaan dapat memprediksi siapa saja karyawan yang potensial untuk mengalami kecelakaan kerja. Lalu sejak dini perusahaan dapat menyiapkan upaya-upaya pencegahannya.

b. Sistem Insentif

Insentif yang diberikan kepada karyawan dapat berupa uang dan bahkan karir. Dalam bentuk uang dapat dilakukan melalui kompetisi antarunit tentang keselamatan kerja paling rendah dalam kurun waktu tertentu, misalnya selama enam bulan sekali. Siapa yang mampu menekan kecelakaan kerja sampai titik terendah akan diberikan penghargaan. Bentuk lain adalah berupa peluang karir bagi para karyawan yang mampu menekan kecelakaan kerja bagi dirinya atau bagi kelompok karyawan di unitnya.

c. Pelatihan Keselamatan Kerja

Pelatihan keselamatan kerja bagi karyawan biasa dilakukan oleh perusahaan. Fokus pelatihan umumnya pada segi-segi bahaya atau resiko dari pekerjaan, aturan dan peraturan keselamatan kerja, dan perilaku kerja yang aman dan berbahaya.

d. Peraturan Keselamatan Kerja

Perusahaan perlu memiliki semacam panduan yang berisi peraturan dan aturan yang menyangkut apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh karyawan di tempat kerja. Isinya harus spesifik yang memberi petunjuk bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dengan hati-hati untuk mencapai keselamatan kerja maksimum. Sekaligus dijelaskan beberapa kelalaian kerja yang dapat menimbulkan bahaya individu dan kelompok karyawan serta tempat kerja. Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan melalui pemantauan, penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada karyawan yang cenderung melakukan kelalaian berulang-ulang.

Untuk menerapkan strategi dan program di atas maka ada beberapa pendekatan sistematis yang dilakukan secara terintegrasi agar manajemen program kesehatan dan keselamatan kerja berjalan efektif berikut ini.

Pendekatan Keorganisasian

· Merancang pekerjaan,

· Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan program,

· Menggunakan komisi kesehatan dan keselamatan kerja,

· Mengkoordinasi investigasi kecelakaan.

Pendekatan Teknis

· Merancang kerja dan peralatan kerja,

· Memeriksa peralatan kerja,

· Menerapkan prinsip-prinsip ergonomi.

Pendekatan Individu

· Memperkuat sikap dan motivasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja,

· Menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja,

· Memberikan penghargaan kepada karyawan dalam bentuk program insentif.

Diadopsi dari Tb Sjafri Mangkuprawira dan Aida Vitayala Hubeis, 2007, Manajemen Mutu SDM, PT Ghalia Indonesia.

Selasa, 25 November 2008

PENGUPAHAN KOTA BANDUNG

TEMPO Interaktif, Bandung:Lewat rapat yang berlangsung alot sejak pagi, Kamis (8/11) sore Dewan Pengupahan Kota Bandung akhirnya sepakat merekomendasikan nilai Upah Minimum Kota (UMK) Bandung 2008 sebesar Rp 939.000 kepada Wali Kota Bandung.Menurut anggota Dewan Pengupahan Dede Koswara, besaran UMK tersebut sekitar 93 persen dari nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Kota Bandung yang sebesar Rp 1.005.550.

Dewan Pengupahan (DP) Kota Bandung sepakat merekomendasikan angka Rp939 ribu sebagai Upah Minimum Kota (UMK) 2008.� Besaran usulan ini mencapai 93,38 persen dari nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang mencapai angka Rp1.005.550.Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Bandung Adang Sopandi menjelaskan, penetapan angka KHL tersebut telah disepakati berdasarkan hasil survei di pasar tradisional. Sebelumnya, angka KHL Kota Bandung sebesar Rp942.947 dan terdapat peningkatan 6 persen jika dibandingkan dengan KHL 2007.Sementara untuk UMK, terdapat kenaikan sebesar 9,11 persen dari nilai pada tahun sebelumnya yang jumlahnya sebesar Rp860.565 saja. Usulan ini telah tertuang secara resmi dalam Laporan Dewan Pengupahan Kota Bandung No 12/DPKB/X/2007 per tanggal 8 November 2007.

Kalau pendapat saya peningkatan UMK sebesar 9,11 persen ini menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi Kota Bandung. Terlihat dari tingkat inflasi Kota Bandung yang hanya mencapai 4,5 persen di saat inflasi nasional berkisar 6 persen. Begitu juga dengan kenaikkan upah minimum kota Bandung di tahun 2009 nanti yang rencananya mencapai 11,25 persen dengan jumlah sebesar Rp. 1.044.630.

Namun angka ini tidak menjamin angka kemiskinan di kota Bandung berkurang drastis. Semoga saja kebijakan pemerintah ini tidak disertai dengan kenaikkan-kenaikkan lainnya yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat kota Bandung khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya.

Senin, 17 November 2008

Pengupahan



Secara internasional, Indonesia memiliki besaran pengupahan yang sangat kecil dibandingkan dengan Negara-negara lain. Sebagai contoh, di Amerika upah minimum adalah USD 5,00 – 8,00 per jam atau USD 840,00 – 1.344,00 per bulan. Di Indonesia, upah minimum hanya berkisar antara Rp 400.000 – 1,5 juta per bulan, itu pun sudah dianggap terlalu tinggi. Tapi tentu saja Indonesia masih jauh apabila disandingkan dengan Negara sekelas Amerika, akan tetapi setidaknya ada upaya minimal dari pengusaha dan pemerintah untuk mensetarakan antara UMP dengan KHL. Untuk diketahui, dalam melakukan perhitungan upah, harus dibedakan antara upah minimum dan upah yang diterima pekerja atau upah individual. Upah minimum seharusnya upah terendah pekerja formal, seperti di Korea Selatan, yang besarannya sama dengan upah bagi 5 persen pekerja berpenghasilan terendah. Sedangkan upah yang diterima pekerja sebaiknya merupakan hasil perundingan antara pekerja dan pemberi kerja. Kriteria kenaikan upah minimum sebaiknya mencerminkan berbagai tujuan yang lebih luas, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas dan perlindungan pendapatan bagi kelompok pekerja ber upah rendah. Namun apabila kenaikan upah minimum yang sedang digodok saat ini tidak berorientasi pada tujuan ini, maka yang timbul hanya polemik baru. Dimana kondisinya, Pekerja menuntut kenaikan upah, dan pengusaha menganggap besaran kenaikan upah tidak rasional, sehingga menyulitkan perusahaan dengan dalih kondisi ekonomi yang sedang sulit. Dan pada akhirnya terjadilah yang namanya PHK, yang merugikan pengusaha dan pekerja itu sendiri. Pada dasarnya PHK bukanlah jalan keluar yang bijak, dan ini sebenarnya adalah alternative akhir dari pengusaha, karena ini justru dapat mempengaruhi produktivitas perusahaan secara keseluruhan, dan kemungkinan terburuknya adalah colaps.
Dan sekali lagi harus dipahami bahwa, kenaikan upah minimum harus berorientasi pada pokok-pokok pencapaiannya, yaitu penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas dan perlindungan pendapatan bagi kelompok pekerja berupah rendah. Dengan demikian, diharapkan dalam penetapan besaran UMK di Bandar Lampung tidak berat sebelah. Artinya kenaikan upah minimum yang ditetapkan untuk tahun 2008 nantinya tidak hanya menguntungkan pihak pengusaha saja dan tidak menyengsarakan pekerja atau buruh. Demikian pula sebaliknya, kenaikan UMK harus rasional dan tidak memberatkan pihak pengusaha, yang pada saat ini sedang menghadapi guncangan berat akibat kenaikkan BBM industri. Harus diadakan konsensus bipartit antara pengusaha dan serikat pekerja mengenai besaran upah yang diberikan, disini pengusaha sebagai pemberi kerja harus berusaha memahami posisi pekerja dan begitu pula sebaliknya, karena bagaimanapun, posisi tawar pekerja sangat lemah. Harus diberikan solusi, misalnya apabila dalam kondisi sekarang perusahaan belum mampu untuk memenuhi tuntutan pekerja mengenai kenaikan upah minimum yang setara dengan KHM, agar setidaknya dapat mewujudkannya secara parsial per 6 bulan dan lain sebagainya. Untuk memastikan bahwa semua konsensus antara pemberi kerja dan pekerja sudah ditaati dengan baik, Disnaker Bandar Lampung dituntut untuk melakukan peranannya dalam hal pengawasan dan memberikan sanksi kepada pengusaha yang nakal jika diperlukan. Dengan kata lain, Pemerintah harus mencarikan win win solution agar terjadi konfergensi yang saling menguntungkan, agar kontroversi kenaikan upah minimum antara pekerja dan pengusaha tidak terus terjadi setiap tahun, dan tercipta sinergisitas yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan bersama. Wassalam

Senin, 15 September 2008

VILLAGER SAFETY SHOE

Alat-Alat Keselamatan Kerja

Banyak hal-hal yang perlu kita perhatikan di saat kita akan melakukan aktifitas di dalam sebuah industri

Alat-alat keselamatan kerja adalah salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam setiap melakukan kegiatan di tempat kerja. Karena ini merupakan pencegahan agar tidak terjadi kecelakaan di saat melakukan aktifitas di dalam sebuah industri. Banyak orang yang menyepelekan masalah ini yang berakibat pada keselamatan diri yang terancam. Alat keselamatan kerja tersebut dapat berupa kacamata, helmet, sepatu, masker, tutup telinga, dan lain-lain.
Pekerja di industri petrokimia bekerja dengan tingkat resiko kanker yang lebih
tinggi daripada pekerja industri lainnya, karena bahan material di industri petrokimia
adalah bahan kimia yang bersifat bahan organik yang mudah menguap (polietilen,
cloroetilen, benzen, dan lain – lain) dan mudah menghasilkan gas pencemaran. Hal di
atas dapat dianalisa berdasarkan bahaya kimia, bahaya fisik dan bahaya ergonomik:
1. Bahaya kimia: terhirup atau kontak kulit dengan debu, uap steam, asap dan embun
yang beracun
2. Bahaya fisik: suhu lingkungan yang ekstrim panas dingin, radiasi non pengion dan
pengion, bising, vibrasi dan tekanan udara yang tidak normal.
3. Bahaya ergonomik: pencahayaan yang kurang, luka kerja di bagian tulang otot
dan pengoperasian mesin, bahaya dari peralatan, sistem, metode kerja dan desain
lingkungan.




Masker Anti polusi - menggunakan karbon sebagai filter, sangat cocok untuk pekerja dibidang konstruksi


Untuk menghindari kecelakaan kerja di laboratorium kita dapat melakukan upaya preventif antara lain dengan memakai perlengkapan perlindungan diri pada saat bekerja di laboratorium. Sebagai contoh: jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan badan, sarung tangan untuk melindungi telapak tangan, kacamata pengaman (Google) untuk melindungi mata, sepatu untuk melindungi kaki, dan masker penutup hidung dan mulut.

Sabtu, 06 September 2008

Komentar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Pencegahan Merupakan Cara yang Paling Efektif

Konsep dasar mengenai keselamatan dan kesehatan kerja :
Dua hal terbesar yang menjadi penyebab kecelakaan kerja yaitu : 「perilaku yang
tidak aman」 dan 「kondisi lingkungan yang tidak aman」, berdasarkan data dari Biro
Pelatihan Tenaga Kerja, penyebab kecelakaan yang pernah terjadi sampai saat ini
adalah diakibatkan oleh perilaku yang tidak aman sebagai berikut:

1. sembrono dan tidak hati – hati
2. tidak mematuhi peraturan
3. tidak mengikuti standar prosedur kerja.
4. tidak memakai alat pelindung diri
5. kondisi badan yang lemah

Rambut yang terlalu panjang dan dibiarkan tergerai saat akan bekerja dalam sebuah industri dapat menyebabkan kecelakaan yang akan berakibat fatal. Ini merupakan salah satu perilaku yang dapat merugikan diri sendiri. Rambut pegawai tersebut akan terjepit mesin pembuatan timah tersebut yang akan mengakibatkan kepalanya akan terlindas mesin tersebut.

Agar tenaga kerja memiliki pengetahuan dan kemampuan mencegah kecelakaan kerja, mengembangkan konsep dan kebiasaan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, memahami ancaman bahaya yang ada di tempat kerja dan menggunakan langkah pencegahan kecelakaan kerja. Maka dengan pentingnya pengetahuan tersebut para pegawai akan menjaga keselamatan pribadinya dengan mematuhi semua peraturan yang ada dalam sebuah industri.

Selain itu, perlu juga disiapkan Petugas keselamatan dan kesehatan kerja, manajer bagian operasional keselamatan dan kesehatan kerja serta petugas operator mesin dan perlengkapan yang berbahaya. Ini bertujuan untuk menindak para pekerja nakal yang tetap melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan.